Pada suatu hari seorang pengemis wanita yang dikenal dengan sebutan “Bag Lady” (karena segala harta-bendanya hanya termuat dalam sebuah tas yang ia jinjing kemana-mana sambil mengemis) memasuki sebuah Dept. Store yang mewah sekali. Hari-hari itu adalah menjelang hari Natal. Toko itu dihias dengan indah sekali. Lantainya semua dilapisi karpet yang baru dan indah. Pengemis ini tanpa ragu-ragu memasuki toko ini. Bajunya kotor dan penuh lubang-lubang. Badannya mungkin sudah tidak mandi berminggu-minggu. Bau badan menyengat hidung.Ketika itu seorang hamba Tuhan wanita mengikutinya dari belakang. Ia berjaga-jaga, kalau petugas sekuriti toko itu mengusir pengemis ini, sang hamba Tuhan mungkin dapat membela atau membantunya.Wah, tentu pemilik atau pengurus toko mewah ini tidak ingin ada pengemis kotor dan bau mengganggu para pelanggan terhormat yang ada di toko itu. Begitu pikir sang hamba Tuhan wanita. Tetapi pengemis ini dapat terus masuk ke bagian-bagian dalam toko itu. Tak ada petugas keamanan yang mencegat dan mengusirnya.Aneh ya Padahal, para pelanggan lain berlalu lalang di situ dengan setelan jas atau gaun yang mewah dan mahal. Di tengah Dept. Store itu ada piano besar (grand piano) yang dimainkan seorang pianis dengan jas tuksedo, mengiringi para penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu natal dengan gaun yang indah. Suasana di toko itu tidak cocok sekali bagi si pengemis wanita itu. Ia nampak seperti makhluk aneh di lingkungan gemerlapan itu. Tetapi sang “bag lady” jalan terus. Sang hamba Tuhan itu juga mengikuti terus dari jarak tertentu.Rupanya pengemis itu mencari sesuatu di bagian Gaun Wanita. Ia mendatangi counter paling eksklusif yang memajang gaun-gaun mahal bermerek (branded items) dengan harga di atas $ 2500 per piece. Kalau dikonversi dengan kurs hari-hari ini, harganya dalam rupiah sekitar Rp. 20 juta per piece. Baju-baju yang mahal dan mewah ! Apa yang dikerjakan pengemis ini ?Sang pelayan bertanya, “Apa yang dapat saya bantu bagi anda?”“Saya ingin mencoba gaun merah muda itu ?”Kalau anda ada di posisi sang pelayan itu, bagaimana respons anda ? Wah, kalau pengemis ini mencobanya tentu gaun-gaun mahal itu akan jadi kotor dan bau, Read the rest of this entry »
Abubakar Dalla lahir dalam keluarga agama sepupu. Ketika ia berumur 12 tahun, seorang wanita Kristen Nigeria memberikan kepadanya sebuah Perjanjian Baru Gideon dan mendorongnya untuk membacanya. “Bacalah buku ini dan engkau akan menemukan kehidupan kekal,” wanita itu berkata kepadanya.
Abubakar mengetahui bahwa Injil adalah sebuah buku yang dilarang untuk dibaca, oleh karena agama yang dianut keluarganya, namun ia memiki rasa keinginan tahu yang besar dan ia heran apa sesungguhnya isi dari Alkitab sehingga dianggap sangat berbahaya.
Mematuhi orang tua dalam setiap keputusan yang harus diambil dalam hidup merupakan hal yang sangat penting dalam budaya dan suku di Nigeria, namun Abubakar tidak berkeinginan untuk membuang Alkitab kecil itu. Sebaliknya, ia menyimpan buku itu dan menyembunyikannya di tempat barang-barang pribadinya. Ketika malam tiba, ia bangun dan membaca buku itu selama satu jam lebih.
Suatu hari pada waktu ia pulang dari sekolah, ia melihat ayah dan pamannya menunggunya dengan muka yang serius. Ayahnya memegang tinggi-tinggi Perjanjian Baru yang dirahasiakannya agar dilihat semua orang disitu dan bertanya, “Apa ini?”
“Itu Alkitab,” Abubakar menyahut. “Mengapa engkau menyimpan buku jahat yang dilarang ini?” ayahnya mendesak minta jawaban. Iapun berpikir hati-hati dan berkata,”Oleh karena itu adalah Firman Tuhan dan menunjukkan jalan menuju Sorga.” Read the rest of this entry »
Kesaksian oleh NN – Jakarta
Ini adalah pengalaman hidup saya di kota besar Jakarta ini. Benar kata pepatah orang tua, Injaklah ibukota dan jangan ibukota menginjak kami. Banyaknya tempat hiburan dan juga bebasnya pergaulan membuat setiap orang bisa terlena sama glamour dan hingar bingarnya kehidupan ini.
Enam tahun sudah saya merantau dari daerah dan bekerja di salah satu perusahaan swasta didaerah pinggiran ibukota ini. Perusahaan ini termasuk kecil dengan jumlah karyawan tidak lebih 100 orang termasuk stafnya, Saya bekerja sebagai staf kantor dengan tugas mengontrol kinerja karyawan pabrik. Gaji yang kami terima sungguh sangat kecil walaupun perusahaan ini adalah penanaman modal asing 100%. Namun fasilitas kantor yang banyak membuat kami betah untuk bekerja. Siapa saja bisa menggunakan line telepon tanpa terkontrol, juga pemakaian komputer untuk keperluan pribadi serta printer yang bisa dipakai sepuasnya.
Jam kerja di kantor pun tak terbatas, namun aturan 40 jam seminggu kerja tetap dilaksanakan. Biasanya hingga larut malam kami masih sibuk di kantor tetapi bukan untuk urusan kantor, namun sibuk dengan kegiatan masing masing, seperti menelpon siapa saja, main game, ber-internet ria hingga membuka situs-situs porno.
Untuk hal yang terakhir itu, saya termasuk salah seorang yang suka melakukannya. Saya betah berlama-lama di depan internet membaca cerita maupun membuka gambar yang berbau pornografi. Saya terlena dengan chatting di dunia maya hingga terpengaruh dengan cerita kehidupan sesama jenis di internet.
Pikiran itu terus membayangi pikiran saya, hingga tidak pernah terlintas untuk mencari pacar wanita, meskipun keluarga dan teman selalu menanyakan siapa pacar saya. Read the rest of this entry »
Tanggal 4 Maret 2008 adalah tanggal yang akan selalu diingat oleh keluarga Herwanto Wibowo, khususnya Enrika. Pada tanggal tersebut, Herwanto, suami yang dicintainya hampir meninggal karena tindakan brutal yang dilakukan oleh seseorang yang tidak dikenal. ?
“Waktu saya enak-enak belanja, anak buah saya datang, “ci, disuruh pulang” Saya tanya, “kenapa?” dia ngomong, “om kecelakaan”. Langsung saya datang ke UGD. Disitu sudah banyak orang, banyak teman-teman. Terus saya lihat Herwanto, ya kaget. Saya menjerit, “Ada apa?” Langsung saya nangis. Terus saya ditarik oleh Satpam, tidak boleh dekat-dekat. Pada waktu itu kondisi Herwanto sudah berdarah-darah. Kedua kupingnya hampir putus seperti digigit tikus,” ujar Ernika mengawali kesaksiannya.
Sungguh sebuah kengerian yang tidak pernah Enrika bayangkan. Kepedihan menguasai dirinya.
Sementara itu, melihat kondisi yang semakin parah Herwanto pun dipindahkan ke rumah sakit lain untuk dapat segera menjalani operasi.
“Sebelum keluar aja, dokter udah bilang bahwa rongga matanya tuh pecah. Matanya ini buta sebelah kiri,” ujar Enrika. “Pada waktu itu, bapak sudah tidak sadar. Ada memar di sebelah kiri kepalanya. Tengkoraknya pun kelihatan terbuka,” ungkap dr.Linda, dokter yang memeriksa Herwanto.
Tanda tanya besar tentang apa yang terjadi pun menghantui pikiran Enrika. Hingga temannya pun membawa seorang saksi yang mengetahui kejadian sebenarnya. Namanya Salimin.
“Saya mendengar suara gaduh di gang tersebut. Pada waktu saya nengok ada satu orang yang sedang terlentang dipukul dengan barbel oleh satu orang lain. Saat pukulan ketiga diarahkan ke wajah korban itu, saya langsung lari berniat untuk memberhentikan. Perkelahian pun terjadi. Barbel yang dipegang pelaku tersebut pun sempat lepas dari genggamannya, tetapi saya kalah. Tidak kehabisan akal, saya pun meninggalkan tempat dan berteriak minta tolong ke orang lain hingga membuat akhirnya pelaku itu pun kabur meninggalkan korban bersimbah darah.”
Darah itu sudah terlanjur mengalir, Enrika hanya bisa terdiam memandang suaminya yang terbujur lemas, tak sadarkan diri.
“Saya tidak pernah merasakan suatu kesedihan. Suatu masalah yang besar. Jadi, happy gitu. Suami saya baik, bertanggung jawab, sayang sama anak-anak. Anak-anak juga baik-baik, tidak ada yang macam-macam,” cerita Enrika.
Indahnya sebuah keluarga dalam kenangan-kenangan manis telah mereka lalui berasama. Namun, kenangan-kenangan itu terancam lenyap dan tidak akan terulang kembali. Read the rest of this entry »
Sebuah kesaksian dari seorang hamba Tuhan yang memiliki panggilan Tuhan secara khusus dalam hidupnya. Mengajak kita untuk merasakan betapa indahnya setuju dengan Allah dalam segala rencanaNya
Awal Panggilannya.
Pdt.Samuel Irwan Santoso, S.Th,MA demikianlah nama lengkap hamba Tuhan ini yang melayani Tuhan sebagai Gembala sidang di GBI “Aula Rudal” kota Bontang Kalimantan Timur, Pria kelahiran Surabaya 7 april 1973 ini bercita cita menjadi Hamba Tuhan Full Time/sepenuh waktu sejak ia berada di bangku SMA tahun 1990, ia mendapatkan peneguhan bahwa Tuhan memanggil dia secara khusus menjadi pelayanNya, sejak usia 14 tahun ia sudah belajar melayani Tuhan dan berkotbah. dan ketika lulus SMA th 1991 ia langsung memenuhi panggilan Tuhan dengan masuk sekolah Teologi di STT Tawangmangu yahun1991 Disana ia diproses dan mengalami perjumpaan dengan Tuhan sehingga karakternya banyak diubahkan Tuhan. Disanalah ia bernazar dengan Tuhan bahwa ia akan menjadi hamba Tuhan secara fulltime melayani dimanapun Tuhan tempatkan. 20 Mei 1993 ia lulus dengan baik di sekolah pembentukan karakter itu dan ia berangkat menuju kalimantan Timur 31 mei 1993 ditempatkan di Kecamatan Mangkupalas Samarinda seberang untuk masa prakterknya dibawah pembinaan seorang gemabla beraliran Pantekosta.
Menolak Kesesakan
Ternyata menjadi hamba Tuhan tidaklah semudah yang dibayangkan pria ini, apalagi hanya menjadi seorang pengerja yang bukan dikota besar.Walaupun selama 2 tahun penuh saat ia menjadi pengerja/fulttimer di gereja tersebut ia banyak diperlengkapi dengan karunia rohani dan penyingkapan Firman Tuhan, hal itu tidaklah membuat ia betah menjadi pengerja karena faktor tuntutan ekonomi yang sedemikian sulit dan terbatas baginya. Kesesakan keadaan sering dia alami dalam masanya menjadi pengerja, Ia berniat untuk part time dan mencari pekerjaan. Desakan untuk mencari pekerjaan itu makin kuat ketika ia berkenalan dengan seorang gadis cantik asal samarinda di sebuah pertandingan vocal group di sebuah gereja di Kota Samarinda. Perkenalan makin akrab dan dorongan keinginan untuk bekerja guna mencari penghasilan yang lebih baik makin kuat dalam dirinya. Akhirnya ia berdalih mau menggunakan penghasilannya untuk mensupport pekerjaan Tuhan kalau ia sdh bekerja. 2 Kor 5:7 Read the rest of this entry »
Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Saya menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.
Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Saya merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang saya sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, saya putuskan untuk melakukannya sendiri.
Sambil menangani lukanya, saya bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.
Lalu saya bertanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Saya sangat terkejut dan berkata, “Bapak masih pergi ke sana setiap Read the rest of this entry »
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? …Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11. Read the rest of this entry »
Suatu hari datanglah ulat kepada daun hijau, katanya, “Apa kabar daun hijau?”. Tersentak, daun hijau menoleh dan melihat ke arah suara yang datang. “Oo. Kamu ulat. Badanmu kelihatan kecil dan kurus, mengapa?” tanya daun hijau.
“Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Bisakah engkau membantuku sobat?” kata ulat kecil.
“Tentu…tentu…mendekatlah ke mari.” Daun hijau berpikir, jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau, hanya saja akan kelihatan berlobang-lobang.
Setelah makan dengan kenyang, ulat berterima kasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Si daun hijau pun mempunyai rasa puas dalam dirinya karena dia sudah membantu sahabatnya tersebut. Read the rest of this entry »
Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of Jesus Christ”. Berikut refleksi atas perannya di film itu.
JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN2 KECIL DALAM FILM2 YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA (SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL “ THE THIN RED LINE”. ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.
Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.
“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.
Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.
Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2 lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.
Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi.Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari Read the rest of this entry »
Pada suatu ketika, iblis mengiklankan bahwa ia akan mengobral perkakas” kerjanya. Pada hari H, seluruh perkakasnya dipajang untuk dilihat oleh para calon pembeli, lengkap dengan harga jualnya… Barang” yang dijual antara lain : dengki, iri, dendam, tidak jujur, malas, tidak menghargai orang lain, tak tahu berterima kasih, dll…
Disuatu pojok display ada suatu perkakas yang bentuknya sederhana bahkan sudah agak aus, tetapi harganya paling tinggi diantara yang lain. Salah seorang pembeli bertanya ” Alat ini apa namanya?”, iblis menjawab, ” Oh…itu namanya Putus Asa”. “Kenapa harganya mahal sekali, kan sudah aus…?”. Read the rest of this entry »